Sebagai daerah yang selalu menghasilkan hasil seni ukir dan lukisan, masyarakat Tabanan, Klungkung, disamping bertani secara tekun, juga sejak dini telah belajar mengerjakan seni ukir dan lukisan dari orang tuanya. Atau kalau ingin lebih luas pengetahuan dan ketrampilannya, mau belajar juga kepada sanak saudaranya atau ikut bekerja pada mereka yang dianggap mempunyai reputasi tinggi, atau pada penghasil ukiran berbagai bentuk, atau penghasil seni lukis yang disukai oleh masyarakat luas dan atau pasar turis yang selalu datang ke Bali dalam jumlah yang tidak kecil.
Nyoman Weni dan Nyoman Jero keduanya masih ada hubungan kerabat. Karena sering bertemu akhirnya mereka disepakati keluarga lainnya agar menikah saja dan resmi menjadi suami istri. Setelah menikah dan mulai mengandung Nyoman Weni berhenti menenun. Menurutnya menenun tidak bisa disambi tetapi harus dikerjakan dengan tekun. Padahal dia harus mengurus rumah tangga dan menyiapkan kelahiran anaknya. Suaminya pak Nyoman Jero tetap bekerja mengukir bokor untuk tempat sesajen.
Pada suatu hari di sekitar tahun 1989 Pak Nyoman Jero mempunyai kenalan TNI Angkatan Laut yang bertugas di Surabaya. Pada suatu hari kebetulan kenalannya itu pulang ke Bali dan berkunjung kepadanya di Klungkung dengan membawa selongsong peluru bekas latihan. Mengetahui bahwa Nyoman Jero ahli mengukir bokor, dia ingin selongsong peluru bekas itu diukir dengan motif yang menarik. Biarpun belum pernah mengerjakan ukiran dengan bahan baku selongsong peluru, sebagai kawan dia menyanggupi mengukir selongsong peluru tersebut. Dengan ketekunannya, akhirnya selongsong peluru itu diukir mejadi produk seni yang sangat indah. Sejak itu kawan tersebut membawa hasil karya seni itu kepada kawan-kawan lainnya di lingkungan Angkatan Laut di Surabaya. Sejak itu pula Nyoman Jero makin menekuni seni mengukir selongsong peluru bekas atau bahan baku lain seperti itu. Nyoman Jero makin mengenalkan diri sebagai seniman ukir selongsong peluru bekas.
